- Give examples (2) adaptation of plants in dry areas / desert!
- Give examples (2) adaptation of plants in the cold / snowing place!
- Give examples (2) adaptation of plants in the highland (mountain)!
- How insectivores’ plants catch they prey! (Explain with examples)
- Give an example (1) a form of adaptation of plants in brackish / lane beach!
- Give an example (1) adaptation of plants that live in water!
- What is the importance of mangrove forests for human life?
Biology Questions about Plant Surviving
April 22nd, 2010
Oti Bryophyta and Fern
April 21st, 2010
Oti Plants are multicellular eukaryotes, photosynthetic, and most are terrestrial (some are secondarily aquatic). Plants grow by mitosis, and reproduce by meiosis and alternation of generations with special adaptations of the gametes and embryos to survive in a non-aquatic environment. The gametes are produced in gametangia. The male gametangium is called an antheridium (anthe = flower), while the female gametangium is an archegonium (arche = first, beginning; goni = seed).
Bryophyta, the mosses and liverworts
(bryo = moss; phyto = plant; wort = herb, plant) These are terrestrial, but live in very damp, shady places. They have no vascular system so must directly absorb water from the soil. Mosses have root-like rhizoids (rhizo = root; -oid = like, form) and leaf-like structures, but these are not true roots/leaves because they have no vascular system. The dominant generation in the life cycle is the 1n gametophyte. In addition to the “usual” sexual reproduction, liverworts also reproduce asexually by means of small, cup-like structures called gemma cups containing small pieces of liverwort called gemmae (sing. = gemma). When it rains, the gemmae are splashed out and can grow into new liverworts.
It is worth noting here that many plant names end in “wort” (NOT “wart”), such as liverwort, spleenwort, toothwort, etc. The rootword wort is an old Anglo-Saxon or Celtic word meaning “herb” or “plant”. Back in the Middle Ages in Europe, people believed in the Doctrine of Signatures which said that God purposely created some plants to look like certain body parts (at least in the eyes of the Medieval herbalists) as a sign that those plants were meant to help or cure the body parts they resembled. Thus, while we have plants with names like liverwort or spleenwort, we now know that most of these plants don’t appear to help the organs after which they’re named, and some are even too toxic to safely consume. “Wort” was also used in other plant names. For example, St. Johnswort blooms (at least in Europe) around 24 June, when the Catholics celebrate the festival of the Nativity of St. John the Baptist, Pewterwort is another name for Scouring Rush because of its use in cleaning pewter, and a sudsing juice can be extracted from Soapwort.
In the vascular plants, soil minerals and water are absorbed by the roots (which also anchor the plant and have no cuticle so water can be absorbed). Air, light, and CO2 are absorbed by the leaves, while the O2 “waste” from photosynthesis is released from the leaves. The stem functions in the support of the plant, and its vascular system transports water and nutrients. The diploid sporophyte is the dominant generation. Some gametophytes are monoecious and some are dioecious. “Monoecious” means that the male and female reproductive organs are in/on the same individual plant, while “dioecious” refers to having separate male and female plants. The vascular system (transportation system) is composed of xylem (xylo = wood) which transports water and nutrients up from the roots and must be dead to function (this consists of hollow tubes where cells have died) and phloem (phloeo = the bark of a tree), which distribute sugars around the plant and consists of live cells. In general, in the vascular bundles in the stems, xylem is found “inside” the bundle, surrounded by phloem, and in leaves, xylem is found on “top” of the bundles with phloem underneath.
Division Lycophyta = clubmosses:
(not a moss) (lyco = wolf) This Division contains two main modern genera: Lycopodium (poda = foot) also known as ground pine or wolf’s claw, which is the larger of the two, and Selaginella, which is smaller in size. Many tropical species in this Division are epiphytes (epi = upon, over), plants that use another plant as a substrate upon which to live but are not parasitic. Most of our local species have a rhizome, an underground, horizontal STEM from which the roots and branches arise. Their leaves, while tiny, are true leaves with a vascular system.
Division Sphenophyta = horsetails:
(spheno = a wedge) The main genus in this Division is Equisetum (equis = horse; setum = bristle). Most have an underground rhizome with vertical stems. Many species have whorls of smaller branches at the joints of the stems, thus resembling upside-down horse’s tails. At least one local species has whorls of small, brownish or grayish (dead) leaves at the joints instead of branches, thus sort-of resembling rushes or bamboo. The epidermal cells of this (and many other) species of Equisetum contain silica, thus have been used as potscrubbers, earning the plant the common name of “scouring rush”
Division Pterophyta = ferns:
(ptera, ptero = wing, feather) A frond is a mature fern leaf, and these are often compound (divided into leaflets). A fiddlehead or crozier is a developing “baby” fern leaf. New fern leaves are coiled and uncoil as they grow, thus initially resemble the top of a violin above the pegs (fiddlehead) or a shepherd’s or bishop’s staff (crozier). Most ferns have horizontal stems or rhizomes. Some ferns having vertical stems are called tree ferns.
Note that the ancestors of these primitive plants were present back in “dinosaur times,” and the structures of the modern plants have changed little since then.
For more information on plant taxonomy, check out this site on Systematic Botany at the University of Maryland.
source: http://biology.clc.uc.edu/courses/bio106/mosses.htm
HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN
April 6th, 2010
Oti Tanaman dikatakan sakit jika ada perubahan seluruh atau sebagian organ-organ tanaman yang menyebabkan terganggunya kegiatan fisiologisnya. Misalnya tanaman tomat yang semula segar tiba-tiba menjadi layu. Daun kedelai yang awalnya berwarna hijau segar, sekarang tibatiba kelihatan bercak-bercak cokelat. Tanaman-tanaman tersebut menyimpang dari keadaan normal dan biasanya orang mengatakan sakit. Penyebab sakit ini bermacam-macam, seperti BAKTERI, CENDAWAN, VIRUS, KEKURANGAN ATAU KELEBIHAN AIR, KEKURANGAN ATAU KELEBIHAN UNSUR HARA ATAU KARENA TANAMAN MENDAPATKAN STRESS LINGKUNGAN misalnya suhu lingkungan yang terlalu panas atau terlalu dingin.
Penyakit tanaman dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu PENYAKIT PARASIT dan PENYAKIT NON-PARASIT atau PENYAKIT FISIOLOGIS. Penyebab penyakit parasit sudah diantaranya adalah bakteri, virus dan cendawan. Sedangkan penyakit non-parasit yaitu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan atau kelebihan terhadap unsur hara (mineral), air, inar matahari dan temperatur.
HAMA adalah binatang perusak tanaman budidaya. Tanaman yang dirusak tersebut misalnya kol, sawi, selada, tomat, terung, jagung, jeruk, mangga. Sementara itu, binatang yang merusak atau hama diantaranya adalah
- Wereng menyerang tanaman padi dan menyebarkan virus yang juga menyerang tanaman padi.
- Kutu loncat merusak tanaman lamtoro
- Belalanng sexava, merusak tanaman kelapa
- Ulat kupu artona, merusak tanaman kelapa
Tindakan yang dilakukan agar tanaman terlindung dari serangan penyakit dan hama disebut PROTEKSI TANAMAN. Pengendalian hama yang baik yaitu dengan cara BIOLOGIS. Pengendaliannya meliputi PENGGUNAAN PREDATOR, binatang pemakan hama atau penggunaan parasit dan bakteri yang dapat menyebabkan sakit pada hama tetapi tidak pada tumbuhan. Pemberantasan secara biologis ini hanya akan mematikan hama. Sementara itu, serangga lain yang bukan hama akan terhindar dari kematian.
Macam-macam penyakit pada tanaman.
- PENYAKIT REBAH KECAMBAH
Penyakit rebah kecambah adalah penyakit PEMBUSUKAN PADA leher akar TUMBUHAN YANG baru tumbuh (SEDANG BERKECAMBAH). Penyakit ini disebabkan oleh serangan CENDAWAN PHYTHIUM SP atau RHIZOCTONIA SOLANI. Akibatnya leher akar mengecil sehingga akar tak mampu menopang batang. Akhirnya tumbuhan yang baru akan rebah.
- PENYAKIT EMBUN TEPUNG
Penyakit ini menyerang biji yang sedang tumbuh, sehingga BIJI MENJADI KEROPOS dan akhirnya mati. Penyebabnya adalah CENDAWAN PERONOSPORA PARASITICA. Cendawan ini kadang-kadang juga menyerang biji yang sudah mempunyai daun pertama. Tumbuhan menjadi kerdil dan daunnya bercak-bercak hitam, sehingga produksinya rendah.
- PENYAKIT CVPD
Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) adalah penyakit yang menyerang pembuluh tapis pada BATANG JARAK. Gejalanya, kuncup-kuncup daun menjadi kecil, akhirnya berwarna kuning sehingga menjadi buah berwarna kuning. Penyakit ini disebabkan oleh BAKTERI.
- PENYAKIT PADA TANAMAN PADI.
Penyakit ini menyerang ruas-ruas batang dan butir padi. Penyakit ini disebabkan oleh CENDAWAN PYRICULARIA ORYZAE. Akibatnya ruas-ruas batang mudah patah dan tanaman padi akhirnya mati.
- VIRUS TMV (TOBACCO MOSAIC VIRUS) menyebabkan DAUN TEMBAKAU bercak-bercak putih yang mengakibatkan mutu daun rendah.
- PENYAKIT LAYU PADA TANAMAN MENTIMUN disebabkan oleh BAKTERI ERWINIA TRACHEIPHILA. Bila pangkal batang tanaman yang layu dipotong akan mengeluarkan lendir bakteri berwarna putih kental dan lengket.
- BAKTERI PSEUDOMONAS SOLANACEARUM SMITH. juga dapat menyebabkan Layu Bakteri Pada Akar Tanaman Cabai. Mula-mula tanaman terlihat layu seperti kekurangan air, terutama pada daun-daun muda tak lama kemudian tanaman menjadi layu keseluruhannya dan mati. Bila pada pangkal batang dipotong akan terlihat pembuluh kayunya berwarna coklat. Bila bagian yang paling dekat dengan perakaran (pangkal batang) dipotong miring kemudian dimasukkan ke dalam gelas berisi air jernih, maka tak lama kemudian akan keluar cairan (lendir) yang berwarna putih yang merupakan massa bakteri. Kerusakan tanaman Anthurium karena busuk akar juga disebabkan oleh bakteri.
- PENYAKIT TEPUNG pada tanaman CUCURBITACEAE biasanya disebabkan oleh CENDAWAN ERYSIPHE CICHORACEARUM. Tanaman yang terserang menampakkan adanya lapisan putih bertepung pada permukaan daun dan batang muda. Selanjutnya daun atau batang tersebut berubah kekuningan dan akhirnya akan mati.
- BUSUK AKAR selain menyerang tanaman jeruk, cendawan PHYTOPHTHORA juga menyerang kacang tanah.
- Penyakit bulai biasanya menyerang tanaman jagung. Penyebabnya adalah jamur dengan penyebaran menggunakan spora yang diterbangkan oleh angin.
- Penyakit virus belang biasanya menyerang tanaman kedelai. Penyebabnya adalah virus dengan penyebaran melalui perantaraan angin.
- Penyakit kerdil rumput biasa menyerang tanaman padi. Penyebabnya adalah virus dengan penyebaran melalui perantaraan hama wereng.
Hama Tumbuhan
- Kelompok hewan menyusui (tikus, kera, gajah)
- Kelompok serangga (walang sangit, wereng, belalang, kumbang dan kutu daun)
- Kelompok burung (burung pipit, manyar, dan gelatik)
- Walang sangit
Walang sangit menyerang biji padi yang masih muda dan lunak. Akibatnya biji padi menjadi kosong, kadang berisi tetapi isinya tidak sempurna.
- Ulat penggerek
Ulat penggerek merupakan fase larva dari metamorfosis kupu-kupu Scirpophaga innotata. Ulat ini menggerek dan merusak batang padi kemudian menyerbu titik tumbuh padi yang sedang disemai. Ulat tersebut dapat pindah dari satu batang ke batang yang lain. Serangga ulat pada pucuk padi mengakibatkan daun baru tidak terbentuk dan pucuk daun menjadi kuning dan akhirnya mati.
Upaya pengendalian dan Pemberantasan Hama
- Secara kimiawi
Yaitu dengan menggunakan pestisida (zat kimia pembasmi hama tanaman). Pestisida terdiri dari:
- Insektisida untuk memberantas serangga (insekta)
- Larvasida untuk memberantas larva (ulat)
- Fungisida untuk memberantas jamur
- Algasida untuk memberantas ganggang
- Herbisida untuk memberantas hama gulma
- Secara biologi
Yaitu upaya pengendalian pertumbuhan hama tanaman menggunakan makhluk hidup pemangsa hama tanaman. Contohnya;
- Ulat kupu artona dikendalikan dengan hewan semacam lebah penyengat
- Kutu loncat dikendalikan dengan semut rangrang
- Tikus dikendalikan dengan burung hantu.
Sumber:
Sumarwan, dkk. 2007. IPA SMP untuk Kelas VIII. Jakarta: Erlangga.
Rinie Pratiwi P. 2008. Contextual Teaching and Learning Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Mulyadi, dkk. (2000). Ringkasan Materi dan Latihan Soal Cakrawala SMP Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu Kelas VIII Semester I. Solo: CV. Graha Kurnia Binuka.
Biology Exercise for Grade VIII
March 25th, 2010
Oti This is questions for RSBI Class Grade VIII.
Please do on your exercise book. Do not collect it, we will discus it at our next meeting.
Match the statements with the correct words bellow.
- The process of breakdown of glucose to produce energy using oxygen. (…)
- Pores that connect the air cavities in the leaves with the outside air. (…)
- The closed movement of compound leaves (closing of Mimosa pudica) because of the touch stimulus. (…)
- Gap at the end of the vascular bundles in the edge of leaves as the out place of water droplets. (…)
- Movement in plants that the cause is unknown. (…)
- The excretion event of water vapor by plant into the air. (…)
- The ability of very soft vessels to raise water.
- Movement in plants caused by light stimuli. (…)
- The outside tissue components on the roots or stems that is broken. (…)
- Movement that influenced by external stimuli. (…)
- Plant species adapted in dry areas. (…)
- Energy plants that use by other living things as energy producers. (…)
- The process of burning carbohydrates for energy. (…)
- Membrane in the chloroplast as a place to capture and store energy from sunlight. (…)
- Contains green substance (…)
- Series of glucose formation using carbon dioxide and hydrogen from water. (…)
- Organisms that can fulfill the needs of its own food. (…)
- The process conversion of light energy into chemical energy. (…)
- Stomata
- Emisarium
- Autonomic movement
- Aerobic respiration
- Phototropism
- Transpiration
- Capillarity
- Exogenous movement
- Seismonasty
- Lentisel
- ATP
- Photosynthesis
- Respiration
- Tilakoid
- Chlorophyll a
- Chlorophyll b
- Heterotrophic
- Glucose
- Calvin cycle
- Species CAM
- Autotrophic
Senyawa Organik dan Anorganik
February 11th, 2010
Oti Sudah sejak zaman purba orang mengetahui bahwa tubuh makhluk hidup (manusia, tumbuhan, dan hewan) dapat menghasilkan berbagai macam zat. Gula pasir didapat dari batang tebu, dan gula merah dihasilkan dari pohon enau. Beras dan gandum dapat diuraikan oleh ragi menjadi alkohol.
Bangsa Mesir kuno sudah mengenal formalin, suatu zat pengawet yang dihasilkan oleh semut. Orang Mesopotamia dahulu memperoleh zat-zat pewarna dari hewan molluska. Pupuk urea didapatkan dengan menguapkan air seni (urine) mamalia. Kini kita mengetahui bahwa fosil tumbuhan dan hewan yang terpendam berabad-abad dalam tanah dapat berubah menjadi minyak bumi.
Menjelang akhir abad ke 18, para ahli kimia membagi senyawa-senyawa menjadi dua kelompok :
- Senyawa organik, yang dihasilkan oleh makhluk hidup (organisme)
- Senyawa anorganik, yang dihasilkan oleh benda mati (kulit bumi atau udara)
Istilah organik dan anorganik sendiri diusulkan oleh ilmuwan dari Swedia, Karl Wihem Scheele (1742 -1786) pada tahun 1780.
Pada tahun 1807, Jons Jakob Berzelius (1779-1848) mengeluarkan teori bahwa senyawa-senyawa organik hanya dapat dibuat di dalam tubuh makhluk hidup dengan bantuan “daya hidup” (Vis Vitalis dalam bahasa Latin). Dengan kata lain menurut teori ini, senyawa organik tidak mungkin dapat dibuat dari senyawa anorganik di laboratorium.
Oleh karena Berzelius dipandang sebagai ahli kimia terbesar pada saat itu, teorinya ini dianut oleh para ilmuwan lainnya tanpa ragu-ragu.
Namun teori “daya hidup” ini tak bertahan lama. Teori ini berhasil ditumbangkan oleh murid Berzelius sendiri yaitu Friedrich Wohler (1800 -1882) dari Jerman. Pada tahun 1827, Wohler mereaksikan perak sianat dengan amonium klorida untuk membuat amonium sianat.
AgOCN + NH4CL à NH4OCN + AgCl(s)
Ketika Wohler menguapkan pelarut air untuk memperoleh kristal padat amonium sianat, ternyata pemanasan yang terlalu lama menyebabkan amonium sianat berubah menjadi urea.
Penemuan Wohler itu menggemparkan dunia ilmu kimia, sebab urea (senyawa organik) dapat dibuat dari amonium sianat (senyawa anorganik), atau sebagaimana bunyi surat Wohler kepada Berzelius tertanggal 22 Februari 1828 : “Saya mampu membuat urea dalam tabung reaksi tanpa bantuan ginjal hewan atau manusia“. Sejak saat itu banyak senyawa organik yang diproduksi di laboratorium, bahkan para ahli kimia mampu mensintesis senyawa-senyawa organik yang baru.
Bagaimanakah Tatanama Enzim?
January 15th, 2010
Oti Awalnya, ketika baru beberapa enzim yang ditemukan, penamaan enzim dilakukan tanpa memiliki acuan tertentu. Contohnya saja penamaan enzim emulsin dan ptyalin. Kemudian, setelah enzim semakin banyak ditemukan, penamaan enzim dilakukan dengan menggunakan nama substrat dimana enzim itu bekerja atau nama reaksi yang dikatalisis ditambah akhiran –ase. Misalnya: enzim yang mengkatalisis pemecahan lipid (hidrolisis lipid = lipos) disebut lipase, enzim yang menggunakan pati (amilum = amylos) sebagai substratnya disebut amilase, kemudian nama-nama enzim lainnya seperti selulase, dehidrogenase, urease dan lain-lain.
Setelah semakin banyak ditemukannya enzim, para ahli biokimia mulai memikirkan sistem tatanama enzim yang lebih memadai. Sistem penamaan dengan akhiran –ase tidak lagi memungkinkan setelah ditemukan berbagai enzim yang mengatalisis reaksi yang berbeda terhadap substrat yang sama. Misalnya saja ada beberapa enzim yang menggunakan glukosa 6 fosfat sebagai substrat. Enzim-enzim tersebut yaitu fosfo heksosa isomerase, glukosa 6 fosfatase, glukosa 6 fosfat dehidrogenase dan fosfoglukomutase. Penggunaan tatanama berakhiran –ase berdasarkan substrat yang dikatalisis tidak mungkin digunakan. Keempat enzim tersebut tidak mungkin diberi nama yang sama. Akhirnya, para ahli memutuskan untuk memberikan nama enzim dengan lebih ditekankan pada jenis reaksi yang dikatalisisnya. Contoh, enzim dehidrogenase mengatalisis pengeluaran hidrogen, sementara enzim transferase mengatalisis reaksi pemindahan gugus.
Seiring dengan perkembangan penelitian, yang juga berarti semakin banyak enzim yang ditemukan, sitem penamaan dengan akhiran –ase semakin tidak memadai. Kemudian International Union of Biochemistry (IUB) menyusun sebuah sistem tatanama enzim yang baru.
Sistem penamaan enzim menurut IUB didasarkan pada 4 kaidah pokok, yaitu:
- Enzim dibagi menjadi enam klas berdasarkan jenis reaksi yang dikatalisisnya, masing-masing klas di bagi lagi menjadi 4-13 subklas.
- Nama enzim terdiri atas 2 bagian nama. Nama pertama menunjukkan substrat, sedangkan nama kedua menunjukkan tipe reaksi yang dikatalisisnya. Pada nama kedua ditambah dengan akhiran –ase.
Contohnya :
1.1.1.1 Alkohol: NAD oksidoreduktase
Alkohol adalah substrat enzim tersebut, sedangkan NAD+ bertindak sebagai ko-substrat, dan oksidoreduktase menunjukkan bahwa enzim tersebut mengkatalisis reaksi oksidasi-reduksi.
- Apabila diperlukan, dapat diberikan informasi tambahan untuk menjelaskan reaksi. Informasi tambahan ini dituliskan dalam tanda kurung pada bagian akhir.
Contohnya:
Enzim 1.1.1.37 L-malat: NAD+ oksidoreduktase (dekarboksilasi).
Enzim ini mengatalisis reaksi:
L-malat + NAD+ ® piruvat + CO2 + NADH + H +.
Reaksinya adalah oksidasi reduksi yang disertai dengan pelepasan CO2 (dekarboksilasi).
Lain halnya dengan enzim 1.1.1.37 L-malat: NAD+ oksidoreduktase.
Enzim ini mengkatalisis reaksi:
L Malat: NAD+ ? Oksaloasetat + NADH + H+
Reaksinya adalah dehidrogenase tanpa disertai dekarboksilasi.
- Setiap enzim mempunyai nomor kode (Enzyme Commission = EC) yang terdiri dari 4 digit nomor. Digit pertama menunjukkan klas enzim, digit kedua menunjukkan subklas, digit ketiga menunjukkan subsubklas, dan digit keempat menunjukkan enzim spesifik.
Contohnya:
Enzim dengan EC 2.7.1.1.
Angka 2 (digit pertama) menunjukkan klas ke-2 (transferase)
Angka 7 (digit kedua) menunjukkan subklas 7 (transfer fosfat),
Angka 1 (digit ketiga) menunjukkan subsubklas 1 (alkohol adalah aseptor fosfat).
Angka 1 (digit keempat) menunjukkan enzim yang bersangkutan, yaitu heksokinase atau ATP: D-heksosa 6-fosfotrasferase, sebuah enzim yang mengatalisis pemindahan fosfat dari ATP ke gugus hidroksil pada atom karbon keenam molekul glukosa.
Walaupun tatanama ini kompleks, namun tidak meragukan bagi peristilahan enzim yang didasarkan pada mekanisme reaksi. Walau tatanama ini yang sekarang digunakan, tetapi nama yang lebih pendek dan sudah sering digunakan sebelumnya tetap dipakai.
Bagaimana Struktur Enzim Itu?
January 15th, 2010
Oti Pada awalnya banyak peneliti menemukan bahwa aktivitas enzim diasosiasikan dengan protein, namun beberapa ilmuwan seperti Richard Willstätter berargumen bahwa proten hanyalah bertindak sebagai pembawa enzim dan protein sendiri tidak dapat melakukan katalisis. Namun, pada tahun 1926, James B. Sumner berhasil mengkristalisasi enzim urease dari tumbuhan kara pedang. Urease adalah enzim yang dapat menguraikan urea menjadi CO2 dan NH3. Penelitiannya ini menunjukkan bahwa itu merupakan protein murni. Beberapa tahun kemudian Northrop dan Stanley (1930) yang meneliti tentang enzim pencernaan pepsin, tripsin, dan kimotripsin. Semakin banyak enzim yang telah dapat diisolasi dan telah dibuktikan bahwa enzim tersebut ialah protein.
Penemuan bahwa enzim dapat dikristalisasi pada akhirnya mengijinkan struktur enzim ditentukan melalui kristalografi sinar-X. Metode ini pertama kali diterapkan pada lisozim, enzim yang ditemukan pada air mata, air ludah dan telur putih, yang mencerna lapisan pelindung beberapa bakteri.
Dengan diketuai oleh David Chilton Phillips, struktur enzim lisozim ini dapat terpecahkan. Dengan terpecahkannya struktur lisozim dalam resolusi tinggi ini menandai dimulainya bidang biologi struktural dan usaha untuk memahami bagaimana enzim bekerja pada tingkat atom.
Enzim yang lengkap disebut holoenzim atau enzim konjugasi. Secara kimia, holoenzim tersusun atas 2 bagian yaitu:
- Bagian protein disebut Apoenzim yang bersifat labil (mudah berubah) yang dipengaruhi oleh suhu dan keasaman.
- Bagian yang bukan protein yang disebut dengan gugus prostetik (gugusan aktif). Gugus prostetik dibedakan menjadi koenzim dan kofaktor. Koenzim berupa gugus organik yang pada umumnya merupakan vitamin, seperti vitamin B1, B2, NAD+ (Nicotinamide Adenine Dinucleotide), NADP, FMN dan FAD, Cytokrom (cytokrom a, a3, b, b6, c dan f), plastoquinon, plastosianin dan feredoksin. Kofaktor berupa gugus anorganik yang biasanya berupa ion-ion logam, seperti Cu2+, Mg2+, dan Fe2+. Beberapa jenis vitamin seperti kelompok vitamin B merupakan koenzim. Koenzim dan kofaktor tahan terhadap panas dan mudah terdisosiasi dari protein serta dapat dihilangkan dengan cara dialisis.
Gambar. Haloenzim adalah enzim yang terdir dari struktur Apoenzim dan kofaktor
Sama seperti protein-protein lainnya, enzim merupakan rantai asam amino yang melipat. Enzim umumnya merupakan protein globular dan ukurannya berkisar dari hanya 62 asam amino sampai dengan lebih dari 2.500 residu (pada asam lemak sintase). Tiap-tiap urutan asam amino menghasilkan struktur pelipatan dan sifat-sifat kimiawi yang khas. Rantai protein tunggal kadang-kadang dapat berkumpul bersama dan membentuk kompleks protein.
Kebanyakan enzim berukuran lebih besar daripada substratnya, tetapi hanya sebagian kecil asam amino enzim (sekitar 3–4 asam amino) yang secara langsung terlibat dalam katalisis. Daerah yang mengandung residu katalitik yang akan mengikat substrat dan kemudian menjalani reaksi ini dikenal sebagai tapak aktif. Enzim juga dapat mengandung tapak yang mengikat kofaktor yang diperlukan untuk katalisis. Beberapa enzim juga memiliki tapak ikat untuk molekul kecil, yang sering kali merupakan produk langsung ataupun tak langsung dari reaksi yang dikatalisasi. Pengikatan ini dapat meningkatkan ataupun menurunkan aktivitas enzim. Dengan demikian ia berfungsi sebagai regulasi umpan balik.
Download Free Ebook Tesaurus Bahasa Indonesia
January 1st, 2010
Oti Apa sih tesaurus bahasa Indonesia itu?
Tesaurus memuat kosakata sebuah bahasa dalam relasi kedekatan makna. Tesaurus dapat mengarahkan pengguna bahasa ke dalam memilih kata yang tepat untuk satu konsep. Di dalam tesaurus disajikan kosakata dengan konstelasi relasi makna dengan kata-kata lain, bukan dengan definisi seperti pada kamus. Dengan demikian, pengguna bahasa dapat memperoleh ketepatan bentuk ungkapan dan kecermatan pemilihan kata dalam pengungkapan tentang konsep, ide, gagasan dan pengalaman melalui bantuan tesaurus. Oleh karena itu, tesaurus ini disusun untuk mendampingi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, dan beberapa panduan berbahasa lainnya.
Bagi yang berminta, silakan klik link dibawah ini untuk mendownload free ebook tesaurus ini.
Download Ebook Kamus Besar Bahasa Indonesia
January 1st, 2010
Oti Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasioonal qt. Walau qt mampu berbicara dalam bahasa Indonesia, namun terkadang atau sering kali kita salah kaprah dalam menggunakan sebuah kata. Selain salah kaprah, orang juga sering mengadaptasi istilah-istilah asing begitu saja. Penggunaan bahasa Indonesia tanpa memandang aturan EYD memunculkan bahasa GAUL. Penggunaan bahasa gaul dalam kehidupan sehari-hari terkadang membuat seseorang melupakan arti atau makna sebenarnya dari sebuah kata. Nah, untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam penggunaan maupun pemahaman sebuah kata, maka kita harus mengacu pada kamus besar Bahasa Indonesia.
Ebook ini merupakan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikeluarkan oleh Pusat Bahasa – Departemen Pendidikan Nasional. Ebook ini membantu bagi kita semua yang terkendala dengan masalah biaya, mengingat buku Kamus Besar Bahasa Indonesia sangat mahal.
Untuk mendownload ebook gratis (free) ini silakan klik llnk dibawah ini.
Siapakah Penemu Enzim?
January 1st, 2010
Oti Istilah enzyme berasal dari bahasa Yunani, ???????, yang berarti dalam bahan pengembang (ragi). Istilah enzim (enzyme) pertama kali digunakan oleh seorang ahli fisiologi Jerman bernama Wilhelm Kühne pada tahun 1878. Menurut Kuhne, enzim berasal dari kata in + zyme yang berarti sesuatu didalam ragi.
Kemudian pada tahun 1897, Eduard Buchner mulai mengkaji mengenai kemampuan ekstrak ragi untuk memfermentasi gula. Berdasarkan beberapa eksperimen yang dilakukannya di Universitas Berlin, Buchner menemukan bahwa gula difermentasi bahkan apabila sel ragi tidak terdapat pada campuran. Buchner kemuudian menamai enzim yang memfermentasi sukrosa sebagai “zymase” (zimase). Atas riset biokimia dan penemuan fermentasi tanpa sel yang dilakukannya, Buchner kemudian menerima penghargaan Nobel dalam bidang kimia pada tahun 1907.











